Sunday, December 07, 2008

Andrea Hirata, membangun mimpi orang lain dengan mimpinya

Andrea Hirata. Saya jatuh cinta pada keempat bukunya. Saya jatuh cinta pada caranya mendeskripsikan setiap karakter dan setiap tempat dalam novelnya. Saya jatuh cinta pada gayanya melebih-lebihkan kemampuan Lintang, sahabatnya. Saya jatuh cinta pada kecintaannya terhadap ayahnya. Saya jatuh cinta pada hasratnya yang nyaris tak pernah padam pada pendidikan. Saya jatuh cinta pada puisi-puisinya buat A Ling. Saya jatuh cinta pada memorinya yang seolah tak pernah padam. Saya jatuh cinta pada Ikal. Sungguh. Saya jatuh cinta.

Sejak sekolah di Singapore, saya sudah sangat tertinggal dari perkembangan novel-novel, khususnya novel Indonesia. Saya nyaris ngga tau ada mahluk di muka bumi yang namanya Andrea Hirata. Beruntung saya punya Facebook dan banyak orang sibuk meributkan film Laskar Pelangi yang diangkat dari tetralogi karya anak Belitung yang bernama Andrea Hirata.

Saya penasaran. Sepertinya novel itu bukan sembarang novel. Maka saya mulai mencari apa pun yang bisa saya cari melalui internet. Saya baca resensi bukunya di salah satu website, saya baca profil pengarangnya dari website yang lainnya, saya semakin tertarik. Penasaran. Excited. Ingin tau.

Saat itu bulan September. Apakah buku itu dijual di Singapore? Ntah. Yang jelas buku itu pasti dijual di Indonesia, tapi apakah saya harus menunggu sampai Desember? Omigod, it's too long. couldn't wait anymore. Akhirnya, saya kembali menyusuri google, mencari Laskar Pelangi edisi layar komputer. Ilegal? Biarin. Hak cipta? Persetan. Saya udah naksir berat. Hasrat udah tak tertahankan.

Dan, tarrrraaaa... Saya sama sekali ngga menyesal mendownload novel ini. Dalam waktu kurang dari setengah hari, saya sikat semuanya dan saya tak sabar untuk pulang dan menonton filmnya, walau hingga hari ini keinginan saya yang satu itu belum kesampaian. Film-nya udah ntah di mana ketika saya kembali ke bumi pertiwi.

Di buku pertamanya, Andrea Hirata bercerita tentang dirinya sendiri, Ikal, seorang anak dari kelas ekonomi menengah ke bawah dalam kungkungan timah di Pulau Belitung, beserta sembilan temannya yang lain di SD dan SMP Muhammadiyah yang nyaris ditutup di hari pertama ia akan disekolahkan. Mereka menamai diri mereka Laskar Pelangi. Ya, merekalah anak-anak kelas menengah ke bawah yang haus akan ilmu dan mengerti akan persahabatan. Tak dinyana, Andrea juga menggelitik kita melalui romansa cintanya bersama A Ling, gadis Tiong Hoa yang ia mulai cintai sejak melihat paras kuku-kukunya di toko kelontong Sinar Harapan. Kemiskinan. Pendidikan. Persahabatan. Cinta. Ah, sempurna.

Mungkin kebanyakan orang, termasuk saya, pada bagian awal novel ini, merasa agak bosan dengan gaya penceritaan Andrea, karena kata-katanya selalu membentuk deskripsi, jarang dialog. Namun, dari deskripsinya yang detail itulah saya merasa novel itu benar-benar hidup. Ia menggambarkan Lintang, Mahar, Harun, Kucai, Akiong, Bu Mus, dan tokoh-tokoh yang lain sampai ke sudut-sudut terkecil.  Ia mengajak kita, para pembacanya, untuk mengunjungi pulau tempat ia dilahirkan dan tumbuh besar. Ia menghasut kita untuk terus dan terus membaca karyanya.

Namun, di buku pertama ini, saya merasakan unsur hiperbola yang agak overdosis terhadap kejeniusan Lintang. Diceritakan bahwa Lintang lah yang paling miskin sekaligus yang paling pintar di antara semua anggota Laskar Pelangi. Ia sudah mampu mengenal fisika saat dia masih SD. Gila! Ajaib! Adik saya yang kelas 2 SMA saja mungkin masih merangkak dalam integral. Selain itu, saya juga menemukan kerancuan dalam time flow buku ini. Alurnya bolak-balik SD-SMP SD-SMP, tapi selalu ada Bu Mus. Apakah Bu Mus mengajar SMP juga? Bingung. Tapi tetap indah.

Saya puas dengan Laskar Pelangi. Dan saya melanjutkan perjalanan saya di Google untuk mencari Sang Pemimpi dan Edensor, buku kedua dan ketiga dari Sang Pujangga baru, Andrea Hirata. Setelah jungkir balik, akhirnya saya menggapai apa yang saya inginkan.

Pulang ke Indonesia, saya rela melototi laptop adik saya untuk menyelam ke dalam Sang Pemimpi. Di sini diceritakan kehidupan Ikal mulai dari SMA. Beberapa karakter baru diperkenalkan. Arai, sepupu Ikal si simpai keramat. Jimbron, si tambun yatim piatu. Zakiah Nurmala, pujaan hati Ikal. Dan Laksmi, tambatan hati Jimbron. Mereka melewati masa SMA mereka yang penuh dengan mimpi, kemudian merantau ke Jakarta, mengejar mimpi mereka. Si Ikal akhirnya kuliah di UI, lalu mendapat beasiswa ke Universite de Sorbonne, Perancis. Ya, itulah hebatnya kekuatan mimpi.

Di novel yang satu ini, bagi saya, alurnya semakin rapi dan indah. Lagi-lagi dengan gaya pendeskripsian yang sangat indah, saya terhanyut, semakin jauh, jauh, dan jauh ke dalam Pulau Belitung. Sungguh, saya sempat menitikkan air mata saat sampai pada bagian di mana Ikal, yang merupakan bagian dari Garda Depan kehilangan semangat belajar dan bermimpinya karena ia merasa bagaikan pungguk merindukan bulan. Ia terdepak. Namun, ayahnya tetap menyunggingkan senyum yang sama seperti pada saat ia masih jadi ranking 3 saat mengambil rapornya, tetap menampilkan baju terbaiknya seperti pada saat ia masih jadi ranking 3 sebelum mengambil rapornya. Ayahnya tetap bangga padanya, dan Ikal kembali pada mimpinya. Ikal, Ikal. Sungguh kau mengambil hatiku.

Lain lagi Edensor. Di buku yang satu ini, Andrea Hirata menceritakan hidupnya dan Arai di Perancis dan culture shock yang mereka alami. Ia menceritakan teman-teman bangsa lainnya dengan begitu sempurna. Amerika, Inggris, bahkan India. Dan lagi, ia menceritakan pengalamannya menjadi backpacker, menjelajahi Eropa hingga ke Afrika, merangkul mimpi masa SMA-nya dan mencari cintanya, A Ling. Bayangkan, mencari cinta hingga ke Zaire!!!

Tak cukup dengan tiga buku itu, saya mencari buku keempatnya. Kali ini dengan cara yang legal. Saya membeli bukunya. Delapan puluh ribu. Biar saja. Saya sudah cinta pada Andrea Hirata. Delapan puluh ribu bukan apa-apa. Demi cinta saya. Hobi memang menguras kantong.

Dan, whoolaaa... Maryamah Karpov sudah dalam genggaman. Tapi banyak yang menghalangi saya baca dengan cepat. Mama ngga rela anaknya duduk bagai patung berjam-jam menyusuri kata demi kata hingga kupingnya jadi tuli dan seluruh tubuhnya jadi mati rasa. Ya, terpaksa saya membaca pelan-pelan dan putus-putus.

Ikal dapat S2-nya setelah sidang di tengah puasanya yang 18 jam tanpa sahur. Ia kembali ke Belitung, dengan gelar master, tapi pengangguran. Ia meng-claim dirinya sebagai pengangguran yang paling intelek di seantero Belitung. Ia berleha-leha sekian lama, lalu kembali mencari cintanya, A Ling. A Ling, cinta pertamanya, begitu berbekas dalam relung hatinya, seperti tak dapat hilang. Ia membuat kapal, mencari A Ling hingga ke daerah berbahaya dan mistis, membawanya pulang.

Akhir dari cerita ini begitu menggantung. Tapi saya suka. Saya suka akhir cerita yang menggantung, membuat imajinasi saya bisa berkelana sesuka saya, ke mana saja yang saya suka.

Saya suka bagian di mana Andrea mengkritik sistem di Indonesia melalui perjalanan pulangnya dari Perancis ke Belitung. Sampai ke Singapore, ia mendapatkan perlakuan bak raja. Menyeberang perbatasan, begitu miris, ia harus menghadapi bobroknya sistem transportasi negeri ini yang nyaris merenggut nyawanya. Menggelikan. Para birokrat harus baca, tuh.

Dan, tamatlah perjalanan saya bersama Andrea Hirata berjalan-jalan di dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Saya sungguh bahagia mendapat bacaan seperti ini. Di tengah-tengah teenlit dan chicklit yang tak lebih dari novel cinta-cintaan, Andrea Hirata menggebrak pintu hati saya. Dengan bahasanya, ia membawa saya menyeberangi ruang dan waktu, melompat-lompat dari masa lalu ke masa kini, dan menyadari arti pentingnya mimpi.

Begitu banyak yang bisa kita petik dari keempat novel fenomenal ini. Dan yang paling bikin saya bersemangat adalah kenyataan bahwa kita ngga perlu berlatarbelakang sastra untuk bisa menghasilkan karya sastra yang baik. Cita-cita, atau mungkin bisa dibilang mimpi, saya adalah menjadi penulis dan Andrea Hirata memompa semangat saya dengan karyanya seperti ia memompa semangat seorang mahasiswa yang nyaris di-DO untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia menyentuh berbagai sisi dari berbagai orang.

Saya ngga dibayar oleh Andre Hirata, tapi buku ini sangat saya rekomendasikan buat dibaca.
Sungguh. Saya jamin ngga bakal nyesel.

U're the best I've ever had
~FeN~

3 thoughts:

Vivienne said...

fen....
dikau membuatku penasaran
aku jadi tertarik
ingin tau
sebagus apakah novel ini?
seindah apakah kata-katanya?
aku penasaran

relakah anda mengirimkan novel-novel yang anda download?
saya juga tak perduli dengan hukum
toh para penegak hukum juga melanggar hukum. hehehe

~'FeN'~ said...

tunggu e sampe aku balik sing...
pasti aku kirimin...
baguuuuus nian...

aku lagi baco twilight sekarang...
haha...

Vivienne said...

kutunggu loh fen download nya
hehehehehehe