Showing posts with label sepotong imajinasi. Show all posts
Showing posts with label sepotong imajinasi. Show all posts

Friday, February 04, 2011

Empty field

This is your match. You never told me to come, but I wanted to. It's just because I wanted you to know that I was for you. You didn't need to ask me for anything, but I would do everything for you. I just wanted you to know, I just wanted to show you that I was, I am, and I will be the one and only for you.

I enter the stadium, I sit at the front row: the place where I can see the match clearly and of course, your face and your sweat. I want to see everything clearly. I want to witness this match and I want you to know that I am supporting you whole-heartedly.

I am cheering along, I call your name, I encourage you.

But, you know what?
I am cheering to the empty field.

I am tired.


U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Thursday, February 03, 2011

Suara untuk Cinta

Ketika dia yang begitu besar dan gagah bertanya padaku, "Apa kau mencintai orang tuamu?", kujawab, "Iya," dengan sepenuh hatiku.

Namun, ketika tanda tanya yang lain muncul, aku tertegun.
"Apakah mereka tahu sebesar apa rasa cintamu padanya?"
"Apakah kau pernah menyampaikan rasa cintamu?"

Dan lidahku kelu, tak tahu harus menjawab apa. Hatiku bagai teriris pisau kecil tajam dengan suara berdecit. Aku sadar, tak pernah terucap kata 'terima kasih', 'aku cinta padamu', atau bahkan 'selamat ulang tahun'. Mungkinkah selama ini mereka bertanya-tanya? Dan mereka tak pernah dapat jawabnya, aku pun tak bisa lagi memberi mereka jawaban yang mereka tunggu.

Hanya satu yang ingin kulakukan, kembali ke pangkuan ayah dan ibuku, lalu berbisik lembut di telinga mereka, "Aku sayang kalian."

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kawan, lakukanlah sebelum hari terakhir tiba. Karena kiamat bisa datang kapan saja. Jangan sampai penyesalan datang. Sadarilah sekarang, dan tunjukkan cintamu sebagaimana mereka menunjukkannya kepadamu berpuluh-puluh tahun lamanya.


U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Wednesday, January 26, 2011

Bat and Rooster

Once upon a time, there's a rooster and at the same time, there's a bat. The rooster always fancies the way bat can fly and hunt in the night. The bat is so unlike the rooster, who barely sees everything after twilight. The bat has super power, it's what the rooster thinks.

On the other hand, the bat is always amazed of the rooster's ability to stay awake from early morning. Unlike the bat, the rooster wakes up the earliest and never sleeps during the day. The bat thinks that the rooster is super strong.

And so, and so, these two super creatures start a relationship. They fancy each other, they like each other.

But, is their relationship going to work? They come from definitely different world.

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Tuesday, December 08, 2009

Taman



Tanpa pernah kusadari, sejak bertahun-tahun yang lalu, hidupku penuh dengan dirimu. Jemariku yang setiap malam menari-nari lincah di atas tombol-tombol keyboard komputerku selalu asyik bercerita tentang dirimu: bagaimana ekspresimu setiap kali melihatku keluar dari rumah dengan outfit yang berbeda-beda, bagaimana pandanganmu setiap kali aku mulai membuka mulut untuk mengeluarkan ocehan-ocehan berkepanjangan tanpa akhir, bagaimana tanggapanmu akan kisah cintaku yang fluktuatif, seperti ombak yang sesekali menggulung dan sesekali menerjang hebat, bagaimana ini, dan bagaimana itu. Semua serba dirimu, walaupun di hatiku hinggap beragam-ragam kupu-kupu, mulai dari yang berwarna gelap,bersayap lebar dan gagah, bercorak polkadot atau garis-garis, hingga yang tak punya sayap.
Persahabatan kita begitu indah, tanpa syarat. Hanya padamulah aku bisa jadi diriku sendiri, bercerita apa pun yang aku mau, bertingkah sekonyol-konyolnya aku. Hanya padamulah aku tak takut menunjukkan sepenuhnya diriku, terang dan gelapnya aku. Aku begitu yakin, begitu berani untuk menyimpulkan, bahwa tak akan ada cinta di antara kita.
There are a lot of possibilities, but one thing for sure, I will never fall for you and you will never fall for me,” begitu ujarku padamu. Aku dan dirimu, tak perlu berebut saling menjatuhkan serbuk-serbuk cinta karena serbuk-serbuk itu hanya imaji semata. Kita berdua punya tiga dunia: kau dan berkeranjang-keranjang bunga-bungamu, aku dan beragam-ragam kupu-kupuku, dan kita dengan taman tanpa satu pun bunga dan kupu-kupu.
Aku ingat, waktu itu kita masih SMA, saat kau tiba-tiba datang ke rumahku, berhujan-hujan, begitu pasrah akan siraman kerinduan langit pada bumi yang mengguyur habis kemeja kotak-kotakmu, sambil menangis. Itu pertama dan terakhir kalinya kulihat kau berderai air mata, terisak-isak, tanpa sepatah kata pun. Tak ada untaian-untaian kata-kata manis keluar dari mulutku untuk menenangkanmu, menanyakan apa yang terjadi, atau sekadar sok tahu menceramahimu. Aku tahu aku hanya perlu ada di sana, menemani napasmu naik turun tak teratur sampai kau puas, lalu mengizinkanmu pergi untuk main lagi dengan duniamu.
Aku juga ingat, tiga bulan yang lalu, di kampus, saat aku mengetuk-ngetuk kaca mobilmu dengan cara yang begitu barbar, memaksa salah satu bungamu untuk keluar sambil cemberut dari romantisme kalian, duduk di sebelahmu, dan mulai mengoceh panjang pendek tentang apa yang baru saja kualami. Aku dicium paksa. Aku marah, aku kesal, aku menangis. Dan dirimu, apa yang kau lakukan? Tanpa kata, tanpa sedikit pun kata, kau keluar dari mobilmu, membanting pintu dengan kesal, menghambur ke bajingan itu, menghantamnya dengan tinjumu, lalu tersenyum puas menghadapku yang tergopoh-gopoh mengejarmu lalu bengong melihat apa yang kau lakukan untuk membelaku. Aku lega punya dirimu dan kau bahagia bisa melindungiku, walaupun terlambat. Tak perlu sedikit pun kata di antara kita.
Begitulah persahabatan kita berdua, tanpa satu pun bunga atau kupu-kupu, begitu indah, hanya kita berdua di dalamnya, sesuka kita.
Bunyi klakson Toyota Innova-mu membuyarkan lamunanku. Untuk terakhir kalinya mematut diri di depan cermin setinggi dua meter, aku membenarkan letak pita yang menghiasi bajuku hari ini. Aku berlari keluar, mendapati dirimu tengah mengetuk-ngetukkan jari-jarimu di atas kemudi, pertanda kau sudah mulai tak sabar menunggu. Aku segera berlari dan secepat-cepatnya memposisikan diri di sebelahmu.
Melihat aku masuk, ekspresimu berubah. Entah apa artinya ekspresi hari ini. Apakah aku terlihat jelek? Apakah aku terlihat gendut? Apakah baju ini tak cocok untukku? Apakah rambutku terlalu berantakan? Apakah aku berdandan terlalu berlebihan untuk undangan dinner ini?
“Kenapa? Jelek, ya?” tanyaku perlahan.
Kau menggeleng dan tersenyum, “Nggak. Cantik, kok,” katamu pelan.
Aku tahu yang kau katakan adalah kejujuran. Kata ‘kepalsuan’ tak pernah ada dalam kamus persahabatan kita. Jika aku kelihatan jelek, pasti kau akan bilang jelek sekali dan jika aku terlihat cantik, kau pasti akan secara tulus memujiku. Aku ingat, sejak dulu, kaulah orang pertama yang selalu melihat dan menilaiku sebelum pergi nge-date bersama kupu-kupuku, entah yang bercorak polkadot atau pun yang tak bersayap. Jika aku terlihat jelek, gendut, atau lebai, kau akan menggeleng-geleng dan kembali menekuni tabloid yang kau baca. Sebaliknya, anggukan-anggukan kepalamu selalu membuat kepercayaan diriku membuncah. Kejujuran itu selalu tersampaikan, walaupun tanpa sedikit pun kata-kata.
Aku tersenyum, lega, “So, ngapain kamu ngajak aku dinner? Any special occasion?”
Lagi-lagi kau tersenyum, tapi kali ini tanpa kata. Innova silver-mu meluncur dengan mulus di atas aspal yang mengkilap disinari mentari senja yang sedikit terdistorsi di ufuk barat sana. Tanpa kata, hanya ada senyummu dan kebingunganku sepanjang perjalanan menuju restoran mewah yang tak pernah kudatangi sekali pun.
Kau membukakan pintu untukku dan seumur-umur, baru kali inilah kau memperlakukanku seperti ini. Aku hanya diam, membiarkanmu mengiringku memasuki restoran itu. Meja dan kursi mewah tertata rapi mengelilingi sebuah panggung mewah dengan lampu-lampu Kristal di atasnya. Aku mengamati pemain saxophone yang sedang mengalunkan nada-nada indah dari sebuah lagu yang tak kukenal.
Matamu menjelajah, seperti mencari seseorang. “Sebelah sana,” bisikmu sambil menggandengku menjauh dari pintu masuk.
Kita berjalan menuju sebuah meja bulat bertaplak putih dengan empat kursi di sekelilingnya. Seorang wanita duduk memunggungi kita: rambutnya panjang dengan gelung-gelung anggun, gaun yang dipakainya berwarna hijau toska, kulitnya putih seputih susu. Kau menyentuh punggungnya dan ia menoleh lalu senyumnya mekar, begitu cantik.
“Ini Diandra, pacarku,” ucapmu pelan.
Bibirku tersenyum, tanganku terbuka menyalami gadis cantik itu, tapi ada sembilu menyayat-nyayat ulu hatiku hingga berdarah-darah. Tak ada sejarahnya kau campur adukkan hidupmu dengan dunia kita, tapi kini kau tambahkan bungamu ke dalam taman kosong kita. Maumu apa?
Walaupun tanpa kata, aku tahu, taman kita tak lagi sama. Hatiku yang berdarah-darah juga tak lagi sama.
Aku tak ingin ada bunga di taman kita. Aku mau taman kosong saja, hanya kau dan aku, sesuka kita berdua.

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Saturday, August 15, 2009

Untuk sebuah suara


Kala benang tak kasat mata itu menghubungkan kita berdua, jantung ini berdenyut seirama dengan milikmu di seberang sana
"Halo, selamat siang."
"..."

Berjuta kata berkumpul di sudut bibir ini, saling mendorong, memperebutkan giliran untukku berucap dan tunjukkan rasa
"Halo, ini siapa ya? Mau cari siapa?"
"..."

Pergulatan panjang antara kata dan kata tak jua hasilkan untaian-untaian prosa dan puisi indah yang mampu buatmu merekah
"Halo?"
"..."

Akhirnya yang terdengar hanyalah degup jantungku yang semakin cepat seirama dengan milikmu di seberang sana, yang sedang menanti sebuah suara
"..."
"..."

Cklek. Sambungan terputus.

Kebodohanku terulang. Lagi-lagi aku biarkan kau menggunting benang tak kasat mata itu sebelum aku sempat mengucapkan sebuah kata
"Tut, tut, tuuuut."
"Halo?"


U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Monday, August 10, 2009

The wanderer is wondering


"Is it okay to keep walking?" I asked.
"Yes, of course," you answered.

Then, we continued walking, in silence.

"Can we get a rest?" I gasped, "I am tired."
"No, you can't," you said so firmly, "We need to continue walking. You see that oase? That's our destination. We are about to reach it, so we must keep walking and walking."

I nodded, and you held my hand, showed me the way.

I walked slower and slower. You kept walking constantly. You couldn't bear with my decreased speed, you felt so dissapointed, you were angry, you scolded me but still held my hand.

I started to cry, but my tears never came out. It was too dry to cry. I cried without tears and you hauled me to that oase.

I wondered myself, "Can I feel the water when we get there?"

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Friday, May 29, 2009

Sebuah Cerita

Data input












Processing
|||||||||||||||||||||||||||||||


Output

Tik, tak, tik, tak. Jam tangan Shinta tak henti-hentinya berdetak. Jarum jam telah bergerak empat angka sejak ia tiba dan mulai menanti. Matahari telah bergeser lima derajat ke arah barat, membuat bayangan tubuhnya yang semampai sedikit memendek. Berdiri ia di sana, di antara pedagang asongan yang lalu lalang menjajakan rokok dan air mineral, tukang semir sepatu yang menawarkan jasa kepada pria-pria perlente yang lewat, dan supir-supir yang berusaha menjejalkan semua orang ke dalam angkot yang kelihatannya bisa meledak kapan saja. Dua puluh menit ia telah berdiri di sana, menolak tawaran semir, rokok, dan tumpangan, karena hanya satu yang akan dia terima, yaitu Rama.

*******

Setengah berlari, Rama menyusuri koridor terbuka. Asin peluh yang bercucuran di kening dan membasahi bajunya tak lagi ia perdulikan. Setelah memarkir sepeda motornya sembarangan, ia bergegas memasuki area terminal. Matanya awas, menjelajah mencari sosok gadis kecil berkuncir kuda yang ada dalam ingatannya. Bagaimana rupanya sekarang, semakin cantikkah? Fokus, ia  harus menemukan Shinta, bukannya pengamen yang sibuk sendiri menghitung receh di pojok atau tukang parkir yang terus-menerus meniup peluitnya. Sial, batinnya. Mata dan kakinya terus menyusur terminal itu, sementara otaknya menyusur waktu, kembali ke sepuluh tahun yang lalu.

Rama kecil baru saja kembali dari sekolah. Cepat-cepat ia mengganti seragamnya yang sudah mulai terlalu sempit dengan kaos asal-asalan yang ditariknya dari lemari. Tubuhnya yang semakin meninggi membuatnya tak lagi nyaman mengenakan seragam putih biru itu. Ingin rasanya ia cepat-cepat bermetamorfosis menjadi siswa SMA, dengan seragam putih abu-abu yang gagah, tapi apa daya, ia masih harus menunggu dua tahun lagi. Ia mendesah, menyesali waktu yang berjalan begitu lambat, sampai tiba-tiba suara deru mobil membuyarkan angan-angannya akan masa SMA yang indah. Ia berjalan keluar dan menemukan sebuah Mitsubishi Colt Diesel terparkir di depan rumah tetangganya.

Beberapa orang bertampang kasar keluar dari rumah itu, menggotong barang demi barang yang dikenalinya sebagai sofa di ruang tamu, meja makan, meja rias, dan perabotan-perabotan lain milik tetangganya. Ia hanya berdiri di sana, terheran-heran.

“Rama,” suara lembut seorang anak perempuan dari balik pagar membuyarkan lamunannya.

Rama tersentak. Shinta sudah berdiri di depan rumahnya, tetap dengan pita merah jambu di kuncir ekor kudanya. Shinta, entah sejak kapan ia berubah menjadi sedemikian cantik. Kulitnya yang putih, bulu matanya yang lentik, dan tubuhnya yang semakin meninggi sejak ia menginjak usia remaja membuat Rama tergila-gila padanya. Padahal ia sangat ingat, dulu sekali, sebelum ada cinta di hatinya buat Shinta, ia sering tak memperdulikan rengekan cengeng gadis itu. Cewek begitu menyebalkan, pikirnya. Namun sekarang, ketika bunga cinta itu telah mekar sempurna, Shinta tak lagi ada pada kebiasaannya merengek, dan sepi berdesir di hati Rama. Ia rindu isak tangis Shinta.

“Rama,” panggil Shinta lagi. Kali ini ia sudah berdiri persis di depan Rama, membuka pagar bagi dirinya sendiri, kebiasaan lama, “Kenapa nggak jawab, sih? Dari tadi Shinta panggil-panggil.”

Rama gelagapan, “Maaf, maaf,” ujarnya, “Itu kenapa, ya? Kok barang-barang di rumah Shinta dikeluarin semua?”

“Iya, Shinta mau pindah,” jawabnya pelan. Raut wajah manisnya seketika berubah sendu. Ingin rasanya Rama menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya dan membelai helaian rambut indahnya. Hanya saja, tak cukup keberanian yang ia punya.

“Papa dipindahin ke Bandung,” lanjutnya mencoba menjelaskan, “Shinta sedih. Shinta nggak mau pindah. Shinta nggak mau jauh dari temen-temen. Shinta nggak mau jauh-jauh dari Rama.”

Oh, hati Rama seketika serasa ingin meledak. Ia bahagia dalam kesedihan. Ternyata di dalam hati gadis itu, kehadiran Rama sangat berarti. Ia bahagia, tapi kebahagiaan itu tak ada artinya karena sesaat lagi jarak ratusan kilometer akan memisahkan mereka. Sungguh miris, mengapa ia harus sadar bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan saat Shinta justru akan menjauh dari kehidupannya?

“Shinta,” Rama mencoba berkata-kata, “Rama pasti kangen sama Shinta.”

Gadis itu tersenyum lembut. “Shinta juga.”

Dan sore itu, diiringi deru Mitsubishi Colt Diesel dan celoteh para pekerja yang mengangkut-angkut barang, mentari senja jadi saksi romantisme dua remaja yang menemukan esensi dari sebuah perasaan tulus yang bernama cinta.

*******

Shinta lelah. Perjalanan Bandung-Jakarta ternyata cukup melelahkan, ditambah lagi ia harus menanti dan menanti tanpa henti. Satu jam telah ia lewati dengan ditemani pedagang asongan yang tak henti-hentinya menawarkan air mineral, permen, dan tissue basah kepadanya dan hanya dijawabnya dengan gelengan kepala. Kini, keyakinannya akan kehadiran Rama semakin menipis. Saat ia menulis suratnya kepada Rama beberapa bulan yang lalu, mengabarkan kedatangannya ke Jakarta, ia yakin Rama masih mengingatnya walau selama sepuluh tahun pegunungan memisahkan mereka. Mereka punya cinta. Namun kini, tak lagi ia berani berharap. Sepuluh tahun tanpa komunikasi, bukan mustahil jika saat ini Rama telah miliki kekasih hati yang lain. Toh dulu Shinta pergi begitu saja. Dan sekarang ia sadar, cinta saja tak akan mampu bertahan tanpa komunikasi, tapi nampaknya, kesadaran itu datang sedikit terlambat.

Miris. Ia tertawa sendiri. Sepuluh tahun yang lalu ia pergi begitu saja dari kehidupan Rama tanpa membawa apa-apa selain cinta. Bahkan deretan angka-angka untuk membunyikan telepon di rumah lelaki itu pun ia tak punya. Dan kini ia belajar, tidak menyimpan nomor telepon tetangga adalah sebuah kebodohan mutlak.

*******

Hari-hari sesudah kepindahan Shinta menyisakan lubang di hati Rama kecil. Ia menghabiskan masa-masa remajanya dengan merindukan pita merah jambu di kuncir ekor kuda itu. Bukannya tak ada gadis-gadis yang mencoba mendekatinya, tapi tak satu pun digubrisnya, seolah hatinya telah terkunci dan kuncinya ia buang jauh ke Laut Jawa. Detik demi detik ia lalui dengan mengkhayalkan Shinta jauh di atas sana. Ia tahu Shinta juga punya perasaan yang sama padanya, tapi kenapa tak sekali pun dering telepon di ruang keluarga itu berasal darinya? Kenapa tak sekali pun amplop-amplop coklat di meja ruang tamu itu berisi tulisan tangannya? Kenapa?

Hingga suatu hari di bulan November tiga bulan yang lalu, sebuah amplop merah jambu menarik perhatiannya. Amplop itu terkubur bersama amplop-amplop coklat tak berguna lainnya, tapi seolah ada magnet yang menariknya, Rama seketika langsung mengetahui ada yang berbeda di tumpukan surat yang sejak lima tahun yang lalu tak pernah lagi ia gubris keberadaannya. Dan betapa bahagianya ia, ketika melihat barisan huruf-huruf yang ditulis dengan penuh cinta itu.

Namun, kebahagiaan Rama telah menguap sempurna sekarang. Sendiri, ia terduduk lemas di salah satu bangku yang tersedia di terminal itu. Peluh membanjiri tubuhnya. Sudah tiga kali ia berkeliling tanpa hasil. Tanda tanya pun sudah terlontar ke mana-nama, tapi apa daya, tak ada informasi yang dapat membantunya melacak keberadaan Shinta. Dalam satu jam ada tiga bus tiba dari Bandung, dan tak ada yang tahu di bus yang manakah Shinta menghabiskan tiga jam perjalanannya.

Sial, gerutunya, kenapa ia harus terlambat? Kenapa teman-temannya harus datang ke rumahnya subuh-subuh hanya untuk membawa sepotong kue ulang tahun dengan 22 lilin dan menyebabkan ia terlambat bangun untuk sebuah janji yang sangat penting dalam hidupnya?

Dan ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan amplop merah jambu yang telah kusut karena dibawa ke segala tempat olehnya, walaupun hanya berani dibacanya satu kali. Dibukanya pelan-pelan lipatan kertas lusuh itu dan dibacanya dengan mata nanar. Mungkin ia tak akan lagi punya kesempatan untuk bertemu Shinta, hanya karena sedikit kebodohan.

Rama,

Tak ada yang berubah di hati ini walaupun sepuluh tahun telah berlalu sejak sore itu. Tak ada surat bukan berarti tak ada cinta. Cinta ini tetap tumbuh dan berkembang walau terhalang oleh gunung dan lembah. Anggaplah sepuluh tahun ini ujian bagi engkau dan aku untuk meyakinkan diri bahwa cinta kita tidak salah memilih.

Tiga bulan lagi, di hari ulang tahunmu, aku akan menemuimu untuk meyakinkan cinta ini. Aku akan melanjutkan hidupku di Jakarta, kembali ke pelukanmu. Jika memang kau masih menyimpan asa padaku, dan aku yakin itu, jemputlah aku di Stasiun Gambir. Jam 10.30.

Dan cinta kita akan bermekaran selamanya.

Cintaku padamu,

Shinta

Jemputlah aku di Stasiun Gambir.

Jemputlah aku di Stasiun Gambir.

Jemputlah aku di Stasiun Gambir. 

Rama mendengar gaung suara itu berulang-ulang dalam kepalanya. Terlonjak ia dari kursi reyot yang sedang didudukinya, di mana ia sekarang? Sialan, gerutunya dalam hati. Ia datang ke tempat yang salah. Sekuat tenaga ia berlari keluar, menghidupkan sepeda motornya, dan melaju kencang ke Gambir. Shinta, jangan pergi, kumohon!

*******

Handphone Shinta mulai bersenandung. Cepat-cepat ia mengambil benda mungil itu, menekan salah satu tombol, dan menempelkannya di telinga kirinya.

“Ya? Ada apa, Ma?” jawab Shinta.

“Kamu di mana, toh, Nak? Kenapa nggak sampe-sampe ke rumah tante? Kamu nggak kesasar, kan?” tanya ibunya di seberang sana tanpa jeda napas.

Shinta tersenyum, “Teman Shinta telat jemputnya. Mungkin dia nggak bisa datang. Shinta naik taksi, deh. Dah, Mama.”

Ia tersenyum miris. The time is up, she should have given this up from the start. Ia beranjak, menarik koper yang sejak tadi membisu di sisinya. Perlahan, ia berjalan selangkah demi selangkah, meninggalkan Gambir yang tak ubahnya lautan manusia. Meninggalkan asa akan Rama yang layu seketika walau telah dipupuk sekian lama.

*******

Berlari lagi, Rama berlari lagi. Kereta yang entah dari mana baru saja tiba, dan Gambir seperti penuh sesak oleh ribuan supporter bola dalam final Piala Dunia. Hanya saja, tak ada gawang dan lapangan hijau di stasiun ini. Lalu untuk apa manusia sebanyak ini berkumpul di satu titik di kota yang luas ini? Sebagian dari mereka baru menjejakkan kaki di tanah Jakarta, sebagian menjemput saudara mereka yang baru tiba, dan sebagian lagi memang mencari sesuap nasi di sana. Ia tidak termasuk ketiganya. Rama di sana, untuk memperpanjang napas harapannya akan cinta. Dengan mata yang terus menjelajah ke segala sudut, ia menerobos masuk ke dalam stasiun, berharap Shinta masih di sana, menunggunya dengan sekotak besar cinta yang tak akan pernah bisa habis.

Dan ia tak pernah sadar, seorang gadis berkuncir kuda dengan pita merah jambu sedang berjalan selangkah demi selangkah meninggalkan Gambir, meninggalkan dirinya yang terguyur peluh.


Log off
|||||||||||||||

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Wednesday, April 22, 2009

Dhani: Hanya 25 menit

“Oke,” dan kau seketika melepaskan jemarimu, berdiri dan memunggungiku, “Aku sudah tau jawabannya. Selamat tinggal.”

Selamat tinggal.

Selamat tinggal.

Selamat tinggal.

Kata-kata terakhirmu bergema di telingaku, berulang-ulang, mengiringi suara hak sepatu merahmu yang tetap terdengar indah walau kau berjalan dalam kemarahan. Aku merasa bodoh, kecil, dan tak berdaya. Maafkan aku. Maafkan idealismeku. Aku memang bodoh.

Dan kini, kembali aku di sini, di bawah bintang-bintang, bertarung melawan diriku sendiri. Benar kata mereka, musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Aku berjuang menyingkirkan sisi egois dalam diriku, idealismeku, tapi aku takut aku tak mampu.

Sejak siang itu, tak pernah ada lagi perjumpaan denganmu, tak pernah ada senyum indahmu warnai hari-hariku. Sebulan telah berlalu dan tak ada satu pun dering darimu. Tak ada juga sapaan hangat suaramu yang menjawab panggilan cintaku. Aku sadar, kau benar-benar marah padaku. Tapi, di dalam rongga kecil yang menyimpan cintaku ini, aku masih sangat berharap kau mampu memaafkanku. Sungguh, Sayangku. Hidup tanpamu membuatku kehilangan separuh napasku.

Aku merindukanmu. Mataku merindukan senyummu. Tanganku merindukan jemarimu. Telingaku merindukan suaramu. Rambutku merindukan belaianmu. Bahkan kurasa kontrakanku merindukan derap langkah sepatu merah favoritmu. Trina, bagaimana sebulan ini aku mampu bertahan hidup tanpamu adalah sebuah keajaiban yang menyedihkan, dan kurasa keajaiban ini tak akan mampu bertahan lebih lama lagi.

Apakah keputusanku untuk berkutat dengan pikiran-pikiranku sendiri adalah sebuah kesalahan? Haruskah aku berlari ke dalam pelukanmu sekarang juga? Tapi, bagaimana tanggapan keluargamu jika melihatku? Aku merasa tak pantas untukmu, Sayang. Aku yakin aku akan merasa begitu kecil di hadapan keluargamu. Aku, dengan kontrakan reyotku, gaji kecilku, pekerjaan sederhanaku. Aku tak sanggup membayangkan kau menemaniku menderita.

Sial, mengapa aku terlahir dengan kepengecutan ini? Laki-laki macam apa aku? Persetan dengan keluargamu! Persetan dengan perbedaan sosial kita! Persetan dengan cibiran dunia! Yang aku butuh hanya cintamu dan aku sadar, telah kupunyai seluruh cintamu bertahun-tahun lamanya.

Sekarang aku butuh keberanian.

Aku mengeluarkan handphone-ku, memberanikan diri untuk sekali lagi menghubungimu, meminta maaf padamu, menikahimu.

“The number you are calling is not active or out of coverage area, please try again in a few minutes.”

Kesal, aku membanting benda kecil itu dan melihat jam tanganku, pukul 7.20 malam. Aku segera beranjak, aku telah membulatkan tekad, aku akan pergi ke rumahmu, sekarang juga. Aku akan melamarmu. Aku tak sanggup hidup tanpamu.

Tak punya kendaraan, aku terpaksa menunggu taksi. Ya, selama ini gajiku hanya kugunakan untuk membayar sewa kontrakan dan biaya kebutuhan sehari-hari. Aku menabung untukmu, hanya untukmu, untuk membahagiakanmu kelak.

Pukul 7.45, aku sampai di depan pagar rumahmu yang menjulang tinggi, tempat di mana kepengecutanku selama ini tumbuh dan berkembang. Kali ini, aku tak mau kalah, aku memberanikan diri menekan bel. Semenit, dua menit, tiga menit, tak seorang pun keluar.

Tiga kali aku mengalahkan kepengecutanku dan tak seorang pun menyambut dan memberiku selamat, tak seorang pun keluar, tidak kau, ayah ibumu, atau pun pembantu-pembantumu. Kurasa tak ada orang di rumahmu. Aku beranjak.

Aku seperti kehilangan arah. Aku tak tahu harus pergi ke mana. Aku kembali melirik jam tanganku, pukul 7.55. Aku tak tahu harus ke mana. Aku hanya berjalan tanpa arah dan tujuan. Kenapa ketika hatiku telah memberikan jawaban, aku malah tak tahu harus ke mana. Aku merogoh saku celanaku, bermaksud mencoba sekali lagi menghubungimu, sialan, handphone-ku masih tergeletak tak berdaya di halaman.

Kakiku melangkah, tapi otakku tak tahu ke mana kakiku membawaku. Aku terus dan terus berjalan, tak perduli ke mana. 8.25, entah kenapa, aku berhenti di depan sebuah gereja. Sedang ada upacara pernikahan sepertinya. Kulihat dari kejauhan, si mempelai wanita terlihat begitu bahagia dan aku membayangkan dirimu, Trina. Aku membayangkanmu ada dalam balutan gaun putih itu. Kau pasti akan terlihat sangat cantik, Sayangku.

Detik demi detik, aku memandang pengantin itu dan aku membayangkan dirimu. Detik demi detik, aku memandang pengantin itu dan aku yakin aku melihatmu. Aku berhalusinasi, aku terlalu merindukanmu, Sayangku.

“Dhani!” tiba-tiba ada suara memanggilku, dan aku mendengar itu sebagai suaramu. Aku mencari sumber suara dan mendapati dirimu di hadapanku.

“Trina,” aku tergagap, mendapati dirimu semakin memesonaku. Entah halusinasi atau bukan, kau mengenakan gaun putih yang dipakai oleh pengantin yang aku amati sejak tadi. Sungguh cantik, benar-benar cantik. Namun, seketika aku sadar, kecantikanmu ini bukan untukku. Kaulah mempelai yang sejak tadi aku perhatikan dari jauh dan kakiku benar-benar membawaku menghadapi takdirku.

“Dhan, kenapa kau bisa ada di sini?” tanyamu bingung.

“Takdir membawaku ke mari, Trina,” ujarku pelan, tanpa intonasi, tanpa penekanan seolah semua kemampuanku untuk berbicara dengan baik dan benar telah dibawa pergi oleh rohku yang tiba-tiba saja meyusup keluar dari tubuhku. Aku kosong.

“Kenapa?” tanyaku padamu, masih sepelan dan sedatar sebelumnya, “Tak ada lagikah kesempatan, Sayang?”

Kau menggeleng pelan, giwang di telingamu bergoyang pelan, menambah kecantikanmu. Maafkan aku, Dhan,” jawabmu getir, tanpa senyum, “Kau terlambat. 25 menit.”

Itulah kata-kata terakhirmu padaku, sebelum air mata membasahi pelupuk matamu, sebelum kau berbalik meninggalkanku dengan lebam di hatiku, menyongsong hidupmu yang baru, tanpa aku.


After some time, I finally made up my mind
she is the girl and I really want to make her mine
I'm searching everywhere to find her again
to tell her I love her
and I'm sorry 'bout the things I've done 

I find her standing in front of the church
the only place in town where I didn't search
She looks so happy in her wedding dress
but she's crying while she's saying this 

Chorus:
Boy I've missed your kisses all the time but this is
twenty five minutes too late
Though you travelled so far I'm sorry you are
twenty five minutes too late 

Against the wind I'm going home again
wishing me back to the time when we were more than friends 

But still I see her in front of the church
the only place in town where I didn't search
She looked so happy in her wedding dress
but she cried while she was saying this 

Chorus:
Boy I've missed your kisses all the time but this is
twenty five minutes too late
Though you travelled so far I'm sorry you are
twenty five minutes too late 

Out in the streets
places where hungry hearts have nothing to eat
inside my head
still I can hear the words she said 

Chorus:
Boy I've missed your kisses all the time but this is
twenty five minutes too late
Though you travelled so far boy I'm sorry your are
twenty five minutes too late 

I can still hear her say.......

MLTR - 25 Minutes

(Tamat)

U're the best I've ever had
~FeN~

Maafkan bila ceritanya kurang panjang atau kurang gereget atau kurang orisinil atau kurang apapun. Harap maklum. Saya masih dalam proses pembelajaran, dan saya sangat mengharapkan segala kritik dan saran, baik yang konstruktif maupun yang destruktif.
Terimakasih.
Read Comments

Dhani: Bolehkah aku memutar waktu?

Dan aku hanya mampu duduk di sini, dalam kesendirian dan kesunyian malam, di bawah bintang-bintang yang tak bosan berkelip walau tak tergubris, menunggu hatiku memberi jawaban yang pasti. Teringat olehku percakapan kita bulan lalu.

“Dhan,” tiba-tiba kau datang ke kontrakanku dan kau langsung masuk karena tahu aku tak pernah mengunci pintu, “Kita harus bicara.”

“Ada apa, Sayang?” balasku lembut, mengimbangi ketergesaan dalam suaramu, tanpa mengalihkan pandangan dari komputerku. Aku sedang bekerja dan aku tak suka meninggalkan pekerjaanku setengah jalan. Ya, aku bekerja di rumah. Aku adalah editor sebuah majalah tidak ternama. Gajiku kecil dan karena itulah sampai sekarang aku belum berani melamarmu yang sudah kupacari selama 5 tahun. Aku tak mau mengubahmu dari seorang putri menjadi Upik Abu. Aku tak mau, sungguh.

“Kita harus bicara, sekarang juga. Cepet, tinggalin komputer itu,” desakmu sambil menarik kursi hidrolik yang sedang kududuki agar menghadap ke arahmu. Aku pun menyerah, meninggalkan artikel yang sedang kuedit dan memandangmu, matamu, hidungmu, kesempurnaan paras cantikmu.

Kau mendesah, begitu anggun, aku menikmati keanggunan itu, “Dhan, lamar aku, segera,” tiba-tiba kau berkata.

Belum sempat aku memuaskan diri memandang wajah indahmu, kau telah membuat aku terhenyak. Aku diam, tak mampu berkata-kata. Kau juga diam, menunggu jawabanku. Tak ada kata di antara kita. Hanya suara jam dinding pemberianmu yang terus berdetak tik-tak-tik-tak mengisi ruang yang seolah kosong ini.

Detik-detik berlalu, terasa berjam-jam, bahkan bertahun-tahun, dan aku memberanikan diri berkata, “Trina, dengar, belum saatnya kita menikah. Menikah bukan sekadar membalikkan telapak tangan, Sayang. Aku sudah janji, kan, kalau aku pasti akan melamar kamu. Please, tunggu aku.”

“Kamu ngga ngerti, Dhan! Aku sudah 25 tahun dan tak pernah sekalipun kamu menampakkan diri di rumahku. Keluargaku pikir aku tak punya pacar dan mereka sudah memilihkan aku calon suami. Kamu mau aku menikah dengan orang lain? Sampai kapan aku harus menunggu?” serumu cepat, membuatku semakin kehilangan kata-kata.

Trina, aku tak tahu harus berkata apa. Lidahku kelu. Aku pun tak tahu ekspresi apa yang nampak dari wajahku sekarang, apakah tegang, sedih, atau malah tanpa ekspresi sama sekali? Kamu tahu, aku sungguh tak tahu harus kujawab apa semua seruanmu. Aku memang bodoh. Tak pernah sekalipun aku datang ke rumahmu, mengucapkan salam kepada keluargamu, atau sekadar mengantarmu sampai di beranda rumahmu. Keberanianku hanya sebatas pagar rumahmu yang tinggi menjulang. Aku memang pengecut, Sayang. Aku tak berani menghadapi risiko ditolak oleh ayah dan ibumu. Aku hanya perantau dari kota kecil yang tak punya apa-apa.

“Dhan,” panggilmu, membuyarkan lamunanku, “Kamu dengerin aku nggak, sih?”

“Iya, iya, aku denger,” jawabku pelan, “Aku hanya nggak tau harus berkata apa. Aku …”

Kata-kataku terputus setelah kau cepat-cepat menerka kelanjutannya, “Belum siap menikah. Iya, kan? Bosan aku, Dhan, kata-katamu nggak ada variasi. Bahkan di saat aku sudah mau dijodohkan dengan orang lain pun, kamu masih bilang tidak siap. Jangan-jangan kamu memang tidak cinta padaku?”

“Trina,” aku pun menggenggam jemarimu yang halus, “Tak ada yang bisa mengalahkan cintaku padamu, kau tahu. Karena cinta itulah, aku tak mau melihatmu menderita. Aku tak mau kau susah bersamaku. Beri aku waktu sampai aku mapan, dan aku akan membawamu bersamaku.”

Aku tak dapat menerka ekspresi apa yang sedang kau tunjukkan padaku, mungkin setengah sedih, setengah geli. “Dhan, aku bekerja, kamu bekerja, dan kita bisa merintis semuanya berdua. Kita mulai bersama, dari nol. Aku mau menikah denganmu bukan karena uang, tapi karena cinta. Kalau aku hanya ingin kemewahan, aku sudah meninggalkanmu dari dulu!”

“Tapi, Sayang,” bantahku, “Aku …”

Stop. Sekarang bilang padaku, kamu mau ikut ke rumahku sekarang dan bilang pada papa kalau kamu adalah pacarku atau tidak?” ujarmu memotong omonganku yang belum sempat dimulai.

“Trina, kumohon …”

“Oke,” dan kau seketika melepaskan jemarimu, berdiri dan memunggungiku, “Aku sudah tau jawabannya. Selamat tinggal."


(bersambung)


U're the best I've ever had

~FeN~

Read Comments