Sunday, May 17, 2009

Today

And today, I touched the hand. It's as cold as ice, as fragile as glass. I felt like crying, but my tears were just clogged there, inside my heart.

Oh, If I were the lying body there, I would wish for death.
Maybe she's also wishing for the same thing, someone told me.

Yeah, maybe.

That's why I am pro-euthanasia.

But, it's just impossible.

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Saturday, May 16, 2009

Sebuah deskripsi

Dari ambang pintu kecil yang membatasi ruang terang benderang dan sebuah kamar mungil gelap gulita, kulihat ia terbaring dalam rengkuhan kain tipis bercorak batik. Bahkan dalam balutan selimut, aku tahu bahwa tubuhnya kini semakin meringkih. Ia sedang tertidur, tidur begitu dalam, begitu pulas. Hari itu, hanya kulihat punggungnya dan aku pergi.

Lagi, aku kembali. Kali ini kulihat ia duduk di kursi rotan favoritnya. Ia duduk di sana, di ambang pintu perbatasan terang dan gelap. Pandangannya kosong. HIngar bingar ocehan orang-orang di bawah siraman cahaya lampu neon maupun sendu sedih suara hatinya dalam pekatnya kegelapan tak digubrisnya. Ia hanya duduk di sana, dalam kekosongan.

Dan kali ini, ia tidak tidur memunggungiku. Ia duduk menghadapku. Raganya bertemu ragaku face to face, tapi jiwaku sibuk mencari jiwanya yang terselip entah di mana. Tubuhnya benar-benar kurus, tulang dibalut kulit, tanpa daging. Dapat kulihat cetakan tulang-tulang rusuknya di balik bajunya yang kini kelonggaran. Aku berusaha membetulkan bajunya yang melorot di bahu dan aku menyentuh punggungnya yang kurasa begitu fragile, begitu rapuh.

Untuk sesaat kukira aku akan menangis. Aku ingin menyentuh punggung tangannya, menggenggam jemarinya, mengelus bahunya. Namun, aku takut. Aku takut sentuhanku akan menghancurkannya, meremukkan tulang-tulangnya, membuatnya jadi debu yang berserakan di lantai pualam.

Kuajak dia berbicara, tapi ia tak lagi ingat aku. Kutanya ia ini dan itu, tapi jawabannya selalu tak nyambung. Suaranya lirih, seperti hanya bergumam pada diri sendiri. Organ-organ tubuhnya masih bekerja, hanya saja separuh nyawanya seperti telah hilang.

Ingin sekali aku berteriak, menjerit-jerit, menggantikannya meratapi nasib yang mencincang-cincang habis kebahagiaannya. Tak  mampu lagi ia melakukan apa-apa. Kini semua aktivitasnya hanya berputar-putar di antara sebuah ranjang yang hampir aus, sebuah kursi rotan di ambang gelap dan terang, dan sebuah kamar mandi berlantai merah marun. Tak bisa lagi ia naik turun tangga sampai lantai empat. Tak mampu lagi ia duduk-duduk menikmati telenovela yang bahkan ia sendiri tak jelas alur ceritanya. Tak kuat lagi ia menyuruhku makan, mandi, dan pergi les tiga puluh menit lebih awal.

Aku, di sini, hanya ingin menangis untuknya.

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Tuesday, May 12, 2009

Farewell


Kering sudah air mata ini berlinang
Tak ingin lagi ada kata teruntai untuknya
Tapi di hati ini masih berserakan debu cintanya

Can all be swept at one shot?

Bisakah aku katakan 'selamat tinggal' sekarang?
Can I let it go with a sincere smile?

Farewell

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Sunday, May 10, 2009

Terimakasih, Mama

Today is a special day!
Mother's day!

Errr, bukankah hari ibu itu jatuh pada tanggal 22 Desember? Iya, di Indonesia saja. Di kebanyakan negara-negara di dunia, hari ibu diperingati pada hari minggu kedua di bulan Mei yang tahun ini jatuh pada tanggal 10 Mei. 

Bagi saya, tanggal-tanggal itu tidak penting. Mau 22 Desember, 10 Mei, 7 Maret, 13 Oktober, ataupun 29 Februari, terserah. Yang penting, tetap ada sebuah simbol apresiasi untuk perjuangan seorang ibu. Bagi saya, hari ibu adalah 1 Januari sampai 31 Desember tanpa henti. She's very special everyday!

Lalu, jika seorang ibu dan perjuangannya begitu diagung-agungkan, mengapa masih banyak saja 'Malin Kundang' modern di dunia ini? 
Ketika seorang ibu sudah tak sanggup menyandang tubuhnya sendiri, anak-anaknya tak mau jadi kakinya, tak ingin jadi tangannya, tak sudi jadi matanya. 
Padahal jika kita kembali ke puluhan tahun silam, ketika anak-anaknya masih tak mampu melakukan apa pun, seorang ibulah yang dengan setia merelakan seluruh waktunya untuk si anak. Ia rela mengotori tangannya dengan kotoran si anak, ia tak mengeluh harus berulang-ulang membersihkan rumah yang tak henti-hentinya dikotori oleh muntah si anak, ia bahagia mampu mencuci bertumpuk-tumpuk baju kotor si anak. Ia bahagia bahwa ia bisa bermandi peluh demi anak-anaknya.

Keagungan seorang ibu dibalas dengan nistanya oleh si anak. Pantaskah?

Janji saya kepada diri saya sendiri: bagaimana pun, saya tak mau meninggalkan ibu saya.
Tolong ingatkan saya jika saya sudah mulai melupakan apa yang saya tuliskan di sini. Tolong kembalikan saya ke jalan yang benar jika saya sudah mulai berbelok.

Hari ini Mother's Day. Saya tak melakukan apa-apa untuk ibu saya. Sungguh, saya bingung mau melakukan apa. Membeli kado? Tak tahu mau membeli apa, tak punya rupiah yang cukup, tak punya kendaraan untuk pergi membeli. Lalu? Apa yang saya lakukan? Saya hanya bisa bermanja-manja padanya.

Apakah itu cukup?
Saya tak tahu.

Sebenarnya, ada satu hal yang ingin saya lakukan, ingin sekali. Saya ingin mengatakan hal ini kepada mama secara langsung. Saya ingin bilang, "Ma, Fenfen sayang mama."

Namun, hingga saat ini, saya belum pernah mengungkapkannya secara verbal. Kebiasaan orang timur yang lebih tertutup dan tidak ekspresif menghalangi keberanian saya untuk mengekspresikan cinta saya yang mendalam. Padahal saya ingin.

Mari kita coba melihat lagi lebih dalam, pernahkah kita mengatakan cinta kepada ibu secara langsung? Bandingkan, berapa seringkah kita mengatakan cinta kepada pacar atau gebetan? Mengapa kita mampu mengungkapkan cinta kepada pasangan, tetapi begitu sulit bilang cinta kepada bunda? Mengapa?

Lalu, kapan terakhir kali kita membiarkan ibu mencium pipi kita? Kapan terakhir kali kita bergandengan tangan dengan ibu kita? Kapan terakhir kali kita memeluk ibu kita? Kapan? Sudah lamakah? Ataukah sudah tidak ingat lagi?

Saya merasa beruntung karena saya masih senang-senang saja membiarkan mama mencium pipi saya di bandara sementara banyak teman-teman saya yang merasa bakalan sangat malu jika dicium pipinya di depan umum. Saya merasa sangat beruntung karena saya masih sangat sering berjalan menggandeng tangan mama di tempat-tempat umum. Saya merasa sangat beruntung karena di kesempatan-kesempatan tertentu saya masih sanggup mengekspresikan kasih sayang dan rasa terimakasih saya dengan memeluk mama.

Saya beruntung.
Dan saya akan merasa jauh lebih beruntung ketika saya mampu mengatakan kepada mama betapa saya mencintainya secara langsung. Ya, secara langsung, bukan melalui blog yang mungkin tak dibacanya atau facebook yang ia tak punya account-nya.



Mama, selamat hari ibu.
Mungkin Fenfen sering bikin Mama kesel, marah, dan mungkin nangis. Mungkin Fenfen sering membuat Mama sakit hati. Mungkin Fenfen sering membebani Mama.
Tapi, Mama harus tau, Fenfen sayang Mama melebihi apa pun.
Mama adalah mama terhebat sejagad raya.
Terimakasih Mama udah menemani hari-hari Fenfen selama hampir 20 tahun. Terimakasih Mama udah merawat Fenfen setiap kali Fenfen sakit, mulai dari sakit yang leceh-leceh sampai yang parah. Terimakasih Mama udah menyekolahkan Fenfen, mencukupi semua kebutuhan Fenfen, memperhatikan gizi buat Fenfen. Terimakasih buat semuanya.
Terimakasih buat malam-malam kesepian yang Mama ubah jadi meriah. Terimakasih buat hari-hari menyedihkan yang Mama sulap jadi terang benderang. Terimakasih buat masa-masa kelam yang mama jadikan begitu berwarna. Terimakasih.
Terimakasih Fenfen dari hati yang paling dalam, buat Mama.

Sungguh, kata-kata di atas bukanlah sebuah karangan semata. Semuanya datang dari hati saya. 
Saya benar-benar mau berterimakasih kepada dirinya yang sudah begitu dekat dengan saya. Saya adalah bagian darinya. Tanpa dia, saya bukanlah apa-apa.

Saya jadi teringat sebuah buku yang saya baca resensinya di Popular minggu lalu. Buku itu bercerita tentang cinta seorang anak kepada ibunya, bahkan ketika ibunya tak mampu lagi mengingat namanya. Ibu si anak menderita alzheimer sehingga ia tak mampu mengingat potongan-potongan hidupnya yang nampaknya sepele tapi sebenarnya penting. Alzheimer merenggut sang ibu dari si anak, tetapi menghadiahkan momen-momen baru bagi mereka. 
Sejak positif menderita alzheimer, hubungan ibu dan si anak berubah.

Saya lupa judulnya, saya juga tak tahu buku ini bagus atau tidak. Yang saya tahu, saya, seperti si anak, akan selalu mencintai ibu saya, hingga akhir dunia.

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Dua dunia

Kembali menginjakkan kaki di atas tegel kotak-kotak putih ini, aku merasa memasuki dunia yang lain. Rumah ini tak banyak berubah sejak kutinggalkan beberapa bulan yang lalu, hanya ada sebuah kompor baru menghiasi dapur dan seorang pembantu rumah tangga yang baru bekerja beberapa hari. Namun, angin yang mengelilingi rumah ini bukanlah angin yang sama,ia berubah, berubah dengan sangat cepat, sampai-sampai otakku tak sanggup mencerna perubahan yang terjadi.

Seperti baru memasuki pintu ke mana saja, otakku yang tadinya dipenuhi pikiran-pikiran yang berorientasi pada diriku sendiri berubah. Aku lebih banyak memikirkan orang-orang di sekitarku, tak lagi memikirkan bagaimana mengurus diriku sendiri dengan baik, bagaimana mencapai nilai-nilai yang bagus, bagaimana agar aku ini dan aku itu. Pokoknya pikiranku yang self-oriented di negeri singa sana telah bertransformasi menjadi family-oriented. Berubah, tanpa jeda, tanpa istirahat.

Dua dunia jungkir balik bertolak belakang
Meninggalkan yang satu, masuk ke yang lainnya

Dua dunia jungkir balik bertolak belakang
Sebuah pintu penghubung keduanya

Dua dunia jungkir balik bertolak belakang
Satu otakku memikirkan keduanya

Dua dunia jungkir balik bertolak belakang
Tak mampu pundakku menahan bebannya

I am so fragile, aren't I?

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Thursday, May 07, 2009

EID DIE

My fellow Indonesian CEE mates in front of Bamboo Green House poster and model

My group's poster (Land Reclamation Using Box Caisson)

My group's model of caisson and structure above it plus the laptop used for the video

My group in front of our own poster (Namyo Salim - Han Xiaohan - Norashikin bte Komari - Lim Siyu - Febrina Aryani - Kurniawan Prasetya Pieth)

Fionna, Vindy, and I, three cute IndoCEE girl (muahaha, just admit that we are cute, case closed)

Me, after forcing Ahin to take a good picture of me (narcism to the max, lol)

Before the exhibition

Lazy?
Yes

Do unimportant thing?
Absolutely

Need to hang out?
Of course

In the middle of the exhibition

Exciting?
Somehow, yes

Fun?
Yup

Increasing adrenaline?
So rhetoric

After the exhibition

Tired?
No need to ask 

Dissapointed?
A bit

Relieved?
100%

At least, I learned something and tomorrow I can start my holiday!
Yeah!

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Tuesday, May 05, 2009

Dulu, kini, dan nanti


Dulu
Bodohnya aku sungguh
Tak lihat dunia hanya karena lihat kamu


Kini
Bodohnya aku masih
Tak berhenti lihat kamu yang sudah jauh pergi


Nanti
Tak mau lagi aku terbodohi
Aku mau lihat dunia yang menari-nari
Aku mau dengar bumi menyanyi-nyanyi
Aku mau rasakan hidup yang penuh arti
Tapi
Aku tak mau lihat kamu lagi


U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Saturday, May 02, 2009

Laskar Pelangi, sebuah awal untuk jutaan mimpi...


Entah sudah berapa lama hasrat ini terpendam, dan pagi ini, akhirnya satu lagi wishlist saya berubah menjadi warna merah dan dicetak tebal. Iya, satu lagi keinginan saya terpenuhi. Pagi ini saya nonton LASKAR PELANGI!!!

Sungguh telat, iya. Sudah basi, mungkin. Tapi biarlah, yang penting saya sudah nonton dan saya puas. Terimakasih yang sebanyak-banyaknya buat 'Apel' yang sudah mengunduh film ini dan memberikannya kepada saya. Sungguh berterimakasih diri ini.^^.

Saya membaca novelnya ketika film-nya sudah tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Terlambat. Saya menonton film-nya ketika film ini mulai melaksanakan road show keliling Australia. Lagi-lagi terlambat.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?

Andrea Hirata sungguh membuat saya jatuh cinta setengah mati. Bagaimana pandangan saya terhadap novel Tetralogi Laskar Pelangi dapat dilihat di sini, dan di lembar ini, saya akan membahas tentang film yang diangkat dari buku pertamanya.

Tak ada aktor ganteng dan aktris cantik yang bisa dilihat di film ini. Saya ingat sekali, bagaimana antusiasme saya mengatakan kepada salah satu sepupu saya bahwa saya ingin menonton film Laskar Pelangi hanya dijawab dengan kalimat ini, "Ngapain nonton anak-anak dusun?"

Yeah, dan pada saat itu, saya hanya bisa terdiam sempurna, tak mampu berkata-kata. Apa, sih, yang sebenarnya kita cari dari sebuah film? Aktor dan aktris? Ataukah jalan cerita?
Jika tujuannya hanyalah melihat yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, pandangi saja poster-poster hadiah dari majalah. Jika yang diperhatikan adalah kualitas cerita, janganlah ragu untuk menonton film ini.

Memang benar, film adaptasi sebuah novel tidak akan bisa menyaingi novel itu sendiri. Bagaimana pun hebatnya si sutradara dan crew lainnya, mereka tak akan mampu menang melawan imajinasi pembaca yang liar. Bayangkan saja, satu orang akan punya satu gambaran, dan setiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda. Ada jutaan pasang mata yang membaca novel bestseller itu. Lalu, bagaimanakah caranya satu film dapat mematahkan doktrin berbeda-beda yang tertanam di dalam otak sekian banyak manusia?

Saya sendiri menangkap begitu banyak perbedaan antara film yang baru saja saya tonton dan novel yang sudah saya baca sekitar setengah tahun yang lalu. 
  • Di film ini, Lintang yang berumur 6 tahun sendirian menggenjot sepeda di hari pertama sekolahnya sementara di dalam buku, Lintang yang bau hangus diantar oleh ayahnya yang seorang nelayan.
  • Film ini menceritakan kehidupan masa SD Laskar Pelangi, sementara Andrea Hirata menceritakan perjalanan Laskar Pelangi dari SD hingga SMP.
  • Seharusnya, jika mengikuti alur dalam buku, Ikal jatuh cinta pada A Ling di masa SMP-nya, sementara Ikal yang baru kelas 6 SD tergila-gila pada A Ling di film ini. Dan hal ini sebenarnya sangat mengganggu bagi saya. Mengapa? Karena tubuh Ikal yang masih sangat kecil dijejerkan dengan A Ling yang sudah mulai remaja. Bisa membayangkan bagaimana perbedaan tubuh cowok dan cewek kelas 6 SD, kan?
  • Film ini tidak menceritakan bagaimana Ikal, Mahar, dan teman-teman menjelajahi hutan untuk mencari Flo yang hilang. Tahu-tahu, Flo sudah kembali dan berkeras untuk masuk SD Muhammadiyah Gantong. Seharusnya Flo bergabung dengan Muhammadiyah pada masa SMP, tapi di film ini, Flo yang masih SD sudah bergabung dengan Laskar Pelangi.
  • Di film ini, Mahar dan Flo yang masih SD diceritakan sudah tertarik kepada ilmu-ilmu mistis dan menjelajah hutan demi hutan. Hal ini sangat tidak masuk akal bagi saya. Anak SD tergila-gila pada kekuatan supranatural? OMG.
  • Dalam Karnaval 17 Agustus, SD Muhammadiyah menampilkan tarian, tapi tarian yang ditampilkan di dalam novel dan divisualisasikan di film berbeda. Di dalam novel, tarian itu adalah tarian suku pedalaman Afrika yang menceritakan pertarungan manusia dan binatang buas, sementara tarian yang saya saksikan di film ini tak seliar yang seharusnya. Menurut saya, scene ini adalah bagian terburuk dari film ini. Saya mengharapkan lebih.
  • Seingat saya, novel Laskar Pelangi sama sekali tidak menceritakan Ibu Mus yang ditaksir oleh guru sekolah PN, tapi di film ini, Tora Sudhiro mengejar-ngejar Ibu Mus yang acuh tak acuh. Saya tak menganggap improvisasi ini sebagai sebuah masalah, toh, orang-orang lebih suka bila ada sedikit cinta-cintaan di dalam sebuah film.
  • Bapak Harfan diceritakan meninggal di film ini. Namun saya benar-benar tidak ingat, apakah beliau juga meninggal di dalam novel?
  • Lintang ditampilkan bertemu buaya dan Bodenga tepat pada hari lomba Cerdas Cermat antar-SD, sementara di dalam novel, kedua scene ini adalah hal yang terpisah satu sama lain.
  • Di dalam film, Lintang putus sekolah di saat SD, padahal seharusnya putusnya harapan Lintang untuk bersekolah adalah ketika SMP.
Di samping perbedaan-perbedaan yang sudah saya tuliskan di atas, Laskar Pelangi adalah sebuah film yang sangat patut ditonton. Tiga kali saya meneteskan air mata sepanjang film ini. 
Pertama kali adalah ketika Bapak Zulkarnaen mengunjungi Ibu Mus yang kehilangan semangat lantaran kepulangan Bapak Harfan. Beliau memberikan semangat kepada Ibu Mus untuk kembali mengajar anak-anak luar biasa itu. 
Ketika semangat Ibu Mus sudah terpompa, ia kembali ke sekolah dan mendapati Laskar Pelangi belajar dengan semangatnya di dalam kelas, dipimpin oleh Lintang. Di sini, hati saya kembali bergetar, dan sebutir lagi air mata jatuh ke pipi saya. 
Lalu, tentu saja, putusnya harapan Lintang untuk bersekolah membuat saya menangis lagi. Ia yang paling pandai yang paling cerdas, yang paling teguh hati, harus putus sekolah begitu saja dan menjadi tulang punggung keluarga. Sungguh menyedihkan.

Banyak kalimat-kalimat indah yang terlontar dari dialog-dialog antara tokoh-tokoh di dalam film ini. Beberapa kalimat favorit saya sepanjang film ini:
  1. Ibu Muslimah: Mimpi aku ini bukan jadi istri saudagar, Pak. Mimpi aku jadi guru.
  2. Mahar: Tenang saja kau, Boi! Puisi yang dibuat orang yang jatuh cinta pasti dahsyat! Jangan malu!
  3. Bapak Harfan: Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
  4. Ikal: Mana Bu Muslimah? Mana kawan-kawan? Sekolah apa ini namanya? Tidak ada guru tidak ada murid.
  5. Syahdan (atau Trapani, saya tak yakin): Sukamiskin namanya! Penjaranya miskin seperti sekolah kita, tapi kita tetap suka!
  6. Samson: Yang di pinggir itu otaknya encer macam susu! Belum ketemu saja napasnya! Kalau sudah, sudah habis dilahapnya semua soal itu!
  7. Ikal: Orang yang selalu berusaha datang lebih pagi sekarang harus jadi yang pergi lebih dulu.
  8. Laskar Pelangi: LASKAR PELANGI HARUS SEKOLAH!!!

Laskar Pelangi sungguh memberi inspirasi. Sekali lagi saya jatuh cinta, pada hal yang sama, pada orang yang sama. Saya jatuh cinta pada Andrea Hirata.
Juga kepada Riri Riza dan Mira Lesmana, mereka telah membuat keajaiban Andrea Hirata diangkat ke layar lebar dan mengguncang lebih banyak orang. Setidaknya mereka yang tidak suka membaca bisa merasakan napas sebuah impian melalui film ini.

Mungkin kebanyakan sudah menonton film ini, mungkin sedikit terlambat bagi saya untuk mengatakan ini, tapi sungguh, LASKAR PELANGI is a MUST! Must read and must watch!

Hidup mimpi!

Dan bila ditanya, siapakah yang paling saya suka di antara kesepuluh anggota Laskar Pelangi di film ini? Jawabannya adalah Mahar! Mahar dalam film ini begitu dekat dengan Mahar di dalam kepala saya. So natural!^^

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments

Friday, May 01, 2009

Sebuah jurang untuk sebuah akhir

Tepat sekali. Hari ini mama mengirimkan SMS kepada saya, mengabarkan bahwa adik saya malam ini akan menghadiri acara perpisahan anak-anak kelas 3. Dia yang notabene sebagai pengurus OSIS wajib hadir dalam acara ini sebagai panitia. Iya, menerima tamulah, mengurusi door prizelah, melakukan inilah, itulah, dan hal-hal tidak penting lainnya.

Saya tahu karena saya pun merasakan hal yang sama dulu. Di saat posisi saya masih sebagai junior, saya hadir sebagai panitia, menerima tamu dan semacamnya. Dan di saat saya sudah senior, saya datang sebagai tamu, duduk dan menikmati acara dari awal hingga akhir.

Tiga tahun berturut-turut saya menghadiri acara perpisahan, yang bahasa kerennya adalah prom night, dan jujur, tidak sedikit pun saya terkesan.

Mengapa?
Bukankah prom night adalah acara yang ditunggu-tunggu semua siswa?
Mungkin, tapi tidak bagi saya.

Mengapa?
Bukankah prom nightlah acara puncak dari tiga tahun masa SMA?
Mungkin, tapi tidak bagi saya.

Tiga tahun berturut-turut, saya menghadiri acara perpisahan ini, dan apa yang saya dapatkan?Ketiganya diadakan di hotel berbintang. Ketiganya diadakan malam hari. Ketiganya dihadiri oleh siswa-siswi yang seperti disulap menjadi bintang film Hollywood. So unnatural.
Sementara, seingat saya, acara yang berlangsung itu sebenarnya bisa dihadiri tanpa gaun, jas, dan make up berlebihan, hanya kata sambutan sana-sini, performance ini-itu, santap malam, dan acara salam-salaman antara guru dan murid.

Intinya, murid-murid hanya akan duduk manis di kursi yang sudah disediakan dan menonton. Iya, menonton.

Saya sangat tidak setuju dengan tradisi perpisahan di hotel berbintang, malam-malam, dan mengenakan setelan yang 'wah'. Sekali lagi saya ulangi, saya sangat tidak setuju. Ya, mungkin banyak yang tidak sepaham dengan saya, mengingat acara-acara semacam ini sangat jarang terjadi di masa-masa SMA dan bisa menghadiri acara seperti ini merupakan euforia tersendiri bagi siswa-siswi yang masih termasuk golongan remaja.

Alasan ketidaksetujuan saya tak lain dan tak bukan adalah masalah kesenjangan sosial. Lihatlah, bagaimana prom night menjadi ajang 'show off', menunjukkan apa saja yang mampu seseorang beli dan kenakan. Gaun yang melambai-lambai dan bersinar-sinar itu seolah-olah berteriak sepanjang acara, "Hey, World, see, I am rich and I am pretty. I can afford this expensive dress. How 'bout you, Loser? Ha, ha, ha."

Tak ada yang lebih menonjolkan kesenjangan sosial dalam kehidupan SMA selain prom night. Aturan sekolah yang tidak memperbolehkan murid-murid membawa kendaraan ke sekolah, ditambah lagi terbatasnya tempat parkir yang tersedia, membuat kesenjangan itu tidak terlalu nampak. Baju seragam putih abu-abu itu membuat semuanya sama rata, dan saya sangat suka. Namun, dengan adanya prom night, jurang itu semakin lebar saja.

Mereka yang punya dompet akan sibuk berburu special outfit yang akan mereka kenakan bahkan sebelum Ujian Nasional diselenggarakan. Bahkan ada yang sengaja memesan baju sampai ke ujung dunia, menghabiskan jutaan rupiah demi satu malam yang sama sekali bukan dia ratunya. Jutaan rupiah akan ditambah ratusan ribu lainnya untuk membeli sepatu dan aksesoris. Belum lagi acara pra-perpisahan, yaitu ke salon untuk dandan dan catok rambut. Omigod, it's sure a waste. 

Lalu, bagaimana dengan mereka yang gaji orang tuanya hanya pas-pasan untuk menyekolahkan anak-anaknya dan makan sehari-hari? Tentu saja hal ini akan menjadi sebuah dilema besar. Jika tak tampil layaknya orang kebanyakan, akan saltum alias salah kostum. Jika memaksakan diri tampil seperti artis ibu kota, dari mana uangnya? Lalu, apa yang harus dilakukan? Dilema. Sungguh sebuah dilema.

See, bagaimana sebuah acara perpisahan membuat jarak di antara siswa semakin membentang sungguh sebuah hal yang miris. Perpisahan seharusnya menjadi sebuah ajang untuk mendekatkan diri, saling memaafkan, dan menyimpan semua kenangan indah, bukannya untuk pamer dan menarik perhatian orang-orang yang selevel atau lawan jenis.

Malam perpisahan.
Cowok kaya memakai jas yang khusus dipesan dari ujung langit, membawa mobil yang dicuci bersih dan direndam tiga hari tiga malam, sementara cowok tak berduit memakai kemeja seadanya, bingung bagaimana mau pulang karena sudah kelewat malam.

Malam perpisahan.
Cewek kaya memakai gaun serupa baju pernikahan, dengan make up setebal debu meja belajar yang ditinggal tiga bulan, sementara cewek tak berduit memakai gaun sederhana bekas kakak, tidak menginjak salon sebagai persiapan pra-perpisahan.

Bertolak belakang, kan?

Saya bukan termasuk keduanya, bukan golongan kaya, bukan pula golongan tak punya. Namun saya termasuk ke dalam golongan yang bingung mau memakai baju, sepatu, dan aksesoris apa. Sebenarnya saya ingin menggunakan kaos dan jeans saja sebagai bentuk penolakan saya terhadap kesenjangan sosial yang sengaja diciptakan oleh pihak sekolah, tapi keberanian saya belum sebesar itu. Akhirnya saya tetap mengenakan apa yang tak ingin saya pakai.

I wish I had more bravery to fight against it back then.

Sebuah revolusi terjadi tahun ini. Acara perpisahan diadakan di sekolah, dengan dresscode bebas pantas. Sungguh merupakan sebuah angin segar, tapi saya dengar-dengar banyak anak-anak SMA yang tidak terlalu suka dengan gagasan ini. Biarlah, yang penting perubahannya positif. 

U're the best I've ever had
~FeN~
Read Comments