Thursday, March 19, 2009

Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia

"AdUh, mu'uPhZ YaWH cYanK, aQuWh L9 xiBu9H bUn9eDh..."

Mengetik satu kalimat, delapan kata, empat puluh tujuh karakter di atas, saya merasa sangat kesulitan, terengah-engah sampai kehabisan napas. Oke, lima kata terakhir hanyalah hasil kreatifitas yang berlebihan. Intinya, saya kesulitan menulis dengan bahasa yang entah dari mana asalnya itu, dan saya yakin yang membaca pun pasti sulit menginterpretasikan apa yang saya tuliskan. Dan, pertanyaan saya hanya satu, siapakah orang kurang kerjaan yang menciptakan bahasa begini? 

Bahasa diciptakan dengan tujuan untuk mempermudah komunikasi antarmanusia. Jika bahasa tak pernah diciptakan, kita hanya akan berkomunikasi secara nonverbal, melalui ekspresi ini-itu, kegiatan saling tunjuk-menunjuk, atau mungkin bisa saja kita menari-nari aneh untuk menunjukkan kepada orang lain apa yang ingin kita sampaikan.

See? Bahasa benar-benar mempermudah hidup kita, melengkapi non-verbal dengan verbal. Mereka sempurna. Ya, sempurna. Dengan bahasa, manusia dapat mempercepat proses penyampaian pesan kepada si penerima dan si penerima juga dapat memberikan respon kepada si pemberi pesan dengan media yang sama untuk meminimalisasi kesalahpahaman.

Namun, sayangnya, orang-orang yang terlalu jenius dari Indonesia tidak suka segala sesuatu berjalan dengan simpel dan mudah, mereka menyukai 'inovasi'. Lihatlah apa yang telah mereka lakukan kepada bahasa ibu mereka. Ya, benar, MODIFIKASI. 

Ternyata bukan hanya motor dan mobil yang bisa dimodifikasi, bahasa pun bisa dengan mudahnya dimodifikasi. Tak perlu keluar uang, lagi! Sementara modifikasi motor mengharuskan kita merogoh kocek sampai sekian juta.

Dan begitulah, entah anak jenius mana yang memulai modifikasi besar-besaran ini. Bahasa Indonesia yang telah sedemikian tertata dan user-friendly diacak-acak. Penggunaan huruf kapital yang seharusnya hanya di awal kalimat atau untuk menyebut nama diganti cara pakainya, huruf kapital diselipkan di tengah-tengah kata setiap beberapa huruf sekali. Angka yang digunakan untuk penomoran atau bilangan pun dijadikan sebuah huruf dan diselipkan di tengah kata. Begitu pula dengan ejaan-ejaan baku yang sudah sangat umum dipelintir lebih jauh menjadi sangat ribet dan tak karuan.

Berikut adalah contoh-contoh Bahasa Indonesia modifikasi yang saya quote dari notes-nya Nana di Facebook:
> - iya : ia, iaa, ay, etc
> - kamu: kamuh, kammo, kamoh, kamuwh, kamyu, qamu, etc
> - aku : akyu,aq,akko,akkoh,aquwh,quh, etc
> - maaf: mu'uph,muphs,maav,etc
> - sorry: cowyie,cory,tory(?),etc
> - add : ett,etths,aad,edd,etc
> - for : vo,fur(zz),pols,etc
> - lagi : agi,agy, etc
> - makan: mums,mu'umhs,etc
> - lucu : lutchuw,uchul,luthu,etc
> - siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva,etc
> - apa : uppu,apva,aps,etc
> - narsis: narciezt,narciest,etc
> - anak mana? : naq mnah?, etc
> - gw : w,wee, 9, 6, etc
> - dong : dunkz,dungs, etc

Bayangkan, mau jadi apa Indonesia? Kreativitas ada pada tempat yang salah dan tidak seharusnya. Memang, tidak ada undang-undang yang melarang modifikasi Bahasa Indonesia menjadi seperti ini, tapi menurut saya, hal ini adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap bahasa negara kita. 

Bahasa Indonesia punya banyak dialek, iya, benar, tapi itu bukanlah penghinaan. Dialek dari berbagai daerah di Indonesia menunjukkan kekayaan Bahasa Indonesia itu sendiri. Case-nya berbeda. 

Begitu pula dengan sms yang ditulis secara singkat, menurut saya hal itu bukanlah sebuah bentuk penghinaan. Bagaimana pun, limit karakter yang disediakan untuk menulis SMS itulah yang memaksa kita menyingkat Bahasa Indonesia. Bayangkan jika kita menulis SMS dengan bahasa modifikasi seperti di atas, karakter makin cepat habis, bukannya jadi singkat.

Setelah mencari tahu melalui Paman Google, saya mendapat kesan bahwa banyak orang menganggap bahasa seperti ini diciptakan oleh Alay alias anak layangan. Anak layangan adalah istilah untuk anak-anak kampung yang sok kota, merasa diri mereka lebih hebat daripada yan lain. Tapi saya tidak yakin kalau bahasa yang bisa menyebar luas ke mana-mana ini didalangi oleh sekumpulan orang yang boleh dibilang 'strata bawah'.

Bertahun-tahun yang lalu, Debby Sahertian meluncurkan Kamus Bahasa Gaul, dan menurut saya, hal inilah yang menjadi akar dari segala modifikasi bahasa gila-gilaan yang ada sekarang ini. Saya heran kenapa kamus itu mendapat izin untuk diterbitkan. Sama sekali tidak mendidik. Sampah, itu yang akan saya katakan kalau saya boleh jujur. Disrespek! Mengubah bahasa nasional sama saja dengan meludahi sang saka merah putih.

Yang membuat saya miris, kenapa sikap apatis anak bangsa malah muncul di saat Bahasa Indonesia sedang berusaha merangkak menuju posisi yang lebih dihargai oleh dunia? 

Obama terpilih menjadi penyelamat US, Obama pernah tinggal di Indonesia, bahkan Obama bisa Bahasa indonesia, dan Obama pernah pamer Bahasa Indonesianya di Amerika sana. Hal ini tentu saja sedikit banyak meningkatkan citra bahasa kita di mata dunia.

Bahasa Indonesia mulai diminati di mancanegara. Australia menjadikan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran wajib yang diajarkan di sekolah-sekolah. Banyak orang menawarkan kursus Bahasa Indonesia di Australia. Belanda pun demikian. Lebih dari 50 negara telah mempelajari Bahasa Indonesia. Tak menutup kemungkinan negara-negara lain akan menyusul nantinya. Satu poin lagi untuk Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia menjadi bahasa ke-3 terbanyak yang digunakan di situs www.wordpress.com. Tak menutup kemungkinan bahwa Bahasa Indonesia nantinya akan menjadi bahasa dunia, begitu yang dapat saya kutip dari sebuah artikel. Menurutnya, Bahasa Indonesia yang simpel dan tidak sulit untuk dipelajari membuat bahasa ibu kita menjadi salah satu kandidat kuat bahasa internasional masa depan.

Saya sangat bangga memiliki Bahasa Indonesia.

Namun, kebanggaan saya berganti dengan kegetiran saat mengetahui bahasa ibu saya sudah diinjak-injak oleh sekumpulan orang (entah siapa) yang tidak bertanggungjawab. Bayangkan, bagaimana jika ada orang dari negara lain yang secara khusus datang ke Indonesia untuk belajar bahasa, dan di tengah euforia-nya, ia mendapati kalau ada banyak sekali cara penulisan 'aku': aku, aq, aquwh, aqiuwh, lalala. Ya, ya, ya, kalau saya jadi dia, saya akan langsung kehilangan selera untuk belajar. 

Dari tiga poin plus, Bahasa Indonesia terjun bebas lagi.

Ya, ya, ya, kasihan. Tapi salah siapa? Lagi-lagi salah kita, generasi muda, yang seharusnya membangun, malah menghancurkan bangsa. Lagi-lagi salah kita, generasi muda, yang tak pernah paham akan sebuah warisan dan hanya suka bergaya-gaya. Lagi-lagi salah kita, generasi muda, yang tak pernah serius belajar Kewarganegaraan dan menanamkan nasionalisme di hati kita.

Dan saya teringat kata-kata Valen, "Lebih baik kita, ya, pake bahasa daerah, daripada pake bahasa aneh-aneh kaya gitu."

Saya setuju, daripada saya menggunakan bahasa norak itu, saya lebih suka dialek daerah saya, Palembang. Biar saja banyak yang bilang Bahasa Palembang itu aneh, biar saja banyak yang suka tertawa sendiri mendengar saya bicara Bahasa Palembang, biar saja banyak yang suka seenaknya menambahkan 'o' pada setiap kata-kata yang dia ucapkan untuk (entah) ngatain bahasa daerah saya, biar saja banyak yang suka jayus-jayus manggil saya 'Febrino'. Saya bangga saya punya bahasa daerah, saya bangga saya masih cinta sepenuh hati pada Bahasa Indonesia, saya bangga saya tidak meludahi bahasa saya sendiri.

Hidup Bahasa Indonesia!

Bahasa Indonesia, cintaku padamu...

U're the best I've ever had
~FeN~

7 thoughts:

Valen said...

fen, obrolan kito, biso jadi topik buat blog y. haha! lanjutkan.
jadi da usa cari2 topik ke mano2 =D.

btw, wong2 emang sering cb2 ngo baso plg sato, duoo, tigoo, tapi logat o ny salah. haha. trus ngo, apo kabar kaoo, lagi apoo, ke mano sajoo. hahaha. tapi ak malah seneng, mereka cb bhs palembang.
i love palembangnese, i love indonesian!

~'FeN'~ said...

iyo len, ngomongnyo mejo, makon, ah parah... hahaha...

biarin la, daripada aquwh...
hahaha...

iyo, omongan kito berbobot jg ternyato len...

bowo said...

O iya Fen, penggunaan kata "secara" juga merusak bahasa tuh..
Cth:
Gue tau dia memang cantik, secara banyak cowo yang suka.
^^

lisawen said...

hohoho...
nasionalis skale (--> bahasa yg salah juga) teman saia (ini jg) yang satu ini..
bangga saia (idem)
^^

klo (baru sadar ternyata saya juga suka pake bahasa2 geje) bahasa2 sms2 geje itu saia tidak suka, tapi saia suka pake kata aq, sapa, dll.. ^^

tapi tetep baso plembang is d best..
hahaha...

DELLI said...

@len: sius ooo
peh len kito ngobrol" jg biar dpt ide aku huee ^^

@fen: sius" masa dipanggil febrino haha... msh mending panggilan aku la brarti huee ^^

@bowo: *SKSD mode on*
aku ga prnh pake secara... bahasa apaan tuh... bingung jg waktu dgr orang" ngomong itu huee ^^

@lisa: jgn disengajo oe
emang kl yg cth kata" di atas ini sgt aneh, dak usah ngibakla huee ^^

word of the week: huee ^^

bowo said...

@delli
itu namanya bahasa gaul
g apake itu ga gaul
:D

~'FeN'~ said...

@ bowo: haha, 'secara' itu masih lumayan la... pergeseran makna doank... kalo yg aku lagi bahas ini, pergeseran spelling... lebih parah... hoho...